Rabu, 27 Januari 2010

Agar Buah Hati Tak Lagi Takut Hantu

“Ummi, Ahmad pingin ke kamar mandi. Anterin ya Mi…”

Ummu Ahmad (bukan nama sebenarnya) kaget ketika suatu malam Ahmad, anaknya yang sudah berumur 10 tahun tiba-tiba minta diantarkan ke kamar mandi.

“Ahmad anak shalih… kok tumben minta diantar ke kamar mandi? Biasanya berani sendiri.”

“Ahmad takut ketemu hantu Mi…” kata Ahmad dengan wajah ketakutan.

Kisah ini mungkin sangat sering kita jumpai. Tak hanya anak kecil, bahkan banyak orang dewasa yang mengaku takut terhadap hantu. Masih banyaknya budaya dan kepercayaan terhadap hal-hal mistis yang bertentangan dengan syariat, ditambah lagi maraknya cerita maupun film-film misteri di tengah masyarakat semakin memperparah kerusakan dan mengikis keimanan.

Rasa takut anak kepada hantu, bagaimanapun harus mendapat perhatian khusus dari orang tua. Karena bila ketakutan sang anak tetap terpelihara, tak hanya membentuk mental penakut pada diri anak tetapi juga dapat mengurangi kesempurnaan tauhid yang sangat kita harapkan terbentuk pada diri sang anak.

Sekilas tentang Rasa Rakut (Khauf)

Sangat penting bagi orang tua untuk bisa melatih anak mengatur rasa takutnya. Bukan hanya sekedar agar anak menjadi pemberani, tetapi lebih karena rasa takut adalah bagian dari ibadah. Rasa takut adalah bagian dari rukun yang harus ada dalam ibadah, di samping rasa cinta dan harap.

Macam-macam takut

Ulama telah membagi rasa takut menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Takut ibadah atau disebut juga takut sirri (takut terhadap sesuatu yang ghaib).
Takut ibadah dibagi menjadi dua macam:

a. Takut kepada Allah, yaitu takut yang diiringi dengan merendahkan diri, pengagungan, dan ketundukan diri kepada Allah. Takut semacam inilah yang akan mendatangkan ketaqwaan dan ketaatan sepenuhnya kepada Allah. Oleh karena itu, rasa takut seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah semata karena merupakan salah satu konsekuensi keimanan.

Allah berfirman, yang artinya, “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran 175)

b. Takut kepada selain Allah, yaitu takut kepada selain Allah dalam hal sesuatu yang ditakuti itu sebenarnya tidak dapat melakukannya dan hanya Allah-lah yang dapat melakukannya. Takut semacam ini banyak terjadi pada berhala, takut pada orang mati, takutnya para penyembah kubur kepada walinya, dll. Rasa takut ini merupakan syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari keIslaman.

2. Takut yang haram, yaitu takut kepada selain Allah, yang bukan ibadah tetapi menyebabkan ia melakukan keharaman atau meninggalkan kewajiban. Takut semacam ini dapat mengurangi ketauhidan seseorang.

3. Takut thobi’i (normal). Yaitu takut pada hal-hal yang bisa mencelakakan kita (dengan izin dan kekuatan dari Allah). Misalnya, takut pada binatang buas, api, dll. Takut semacam ini wajar ada pada diri manusia dan dibolehkan selama tidak melampaui batas.

4. Takut wahm (khayalan), yaitu takut pada sesuatu yang sebabnya tidak jelas. Misalnya, takut pada hantu. Takut semacam ini tercela.

Seorang anak yang masih dalam fase pertumbuhan dan sedang mengalami masa belajar, ia mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan kadang disertai pula daya imajinasi yang tinggi. Oleh karena itu, ketika ia mendengar cerita tentang berbagai macam hantu entah dari berbagai media massa, atau dari orang-orang di sekitarnya, hal tersebut bisa menimbulkan rasa takut yang berlebihan. Apalagi bila sang anak pernah mengalami trauma karena ditakut-takuti temannya atau karena pernah mengalami gangguan jin.

Rasa takut kepada hantu atau setan, bisa mengantarkan kepada syirik akbar. Jika sampai membawa pada peribadatan kepada selain Allah. Bentuknya bermacam-macam, ada yang memberi sesajian agar tidak diganggu, membaca berbagai mantera, datang kepada dukun untuk meminta jimat, dan sebagainya.

Pada anak, mungkin tak sampai separah itu. Namun tak jarang kita dapati, karena rasa takut kepada hantu atau semacamnya, anak menjadi takut keluar kamar untuk mengambil wudhu pada pagi hari. Sang anak menjadi menunda-nunda waktu shalat Subuhnya. Ini hanyalah salah satu contoh. Tetapi sekali lagi, hal ini dapat mengurangi kesempurnaan tauhid sang anak.

Ketakutan anak bisa diperparah jika orangtuanya pun tidak paham syariat sehingga demi mengatasi rasa takut anaknya sehingga membawa anak pada kesyirikan. Misalkan menggantungkan jimat pada anak sehingga sang anak terus bergantung pada jimat tersebut hingga ia dewasa.

Cara Mengatasi Rasa Takut Anak kepada Hantu

Bagi orang tua sangat penting mengetahui bagaimanakah cara mengatasi ketakutan anak dengan cara yang sesuai syariat. Antara lain:

1. Tanamkanlah pada anak tauhid dan aqidah yang benar.
Cobalah cari tahu apa yang sebenarnya ditakutkan oleh sang anak pada saat keadaannya tenang. Rangsanglah anak dengan beberapa pertanyaan. “Adik takut hantu ya? Memangnya hantu itu apa sih?”
Jika sang anak menjawab bahwa hantu adalah pocong, genderuwo, nyi loro kidul, kuntilanak, atau semacamnya, jelaskan bahwa hantu-hantu semacam itu tidak ada sama sekali sehingga tidak perlu ditakutkan. Jika yang ditakutkan anak adalah orang mati, maka jelaskanlah bahwa orang mati takkan bisa memberi manfaat maupun bahaya bagi orang yang masih hidup.

Adapun jika sang anak telah mengerti bahwa yang dimaksud orang-orang dengan hantu adalah penjelmaan dari setan atau jin yang hendak mengganggu manusia, maka orangtua haruslah menjelaskan kepada anak bahwa tidak ada kekuatan yang paling kuat kecuali kekuatan Allah. Seluruh makhluk, termasuk jin dan setan di bawah pengaturan Allah. Ajarkan pada anak meskipun seluruh jin dan manusia ingin mencelakakannya, akan tetapi Allah tidak menakdirkannya, maka ia takkan celaka. Begitu pula sebaliknya.

Sungguh indah contoh yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menasehati Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu masih kecil.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata,

“Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya akan kuajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan bahaya terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan bahaya itu terhadapmu kecuali sesuatu yang Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Jelaskan pada anak pada hal apakah ia harus takut (yaitu takut kepada Allah), pada hal-hal apakah ia boleh takut tetapi tidak berlebihan dan hal-hal apa yang ia tidak boleh takut sama sekali. Hendaklah orang tua mengenalkan kepada anak-anaknya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena dengan pengenalan kepada Allah, seorang anak akan mengetahui keagungan Allah, keMahaKayaanNya, kekuasaan-Nya. Yang harus orang tua ingat, mengajarkan rasa takut kepada Allah juga harus disertai pengajaran rasa cinta dan harap kepada Allah. Sehingga hal ini menjadikan anak ikhlas dan giat dalam beramal serta tidak mudah putus asa.

2. Ajarkan wirid dan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ada banyak wirid dan doa yang bisa diajarkan pada anak. Misalnya, wirid pagi dan sore, doa sehari-hari seperti doa masuk WC, doa singgah di suatu tempat, doa hendak tidur, dll. Pilihlah bacaan wirid dan doa sesuai kapasitas kemampuan anak.

Tak hanya sekedar menghafal, tapi juga pahamkan mereka arti dari doa tersebut sehingga mereka mengamalkan doa-doa tersebut dengan penuh keyakinan akan manfaat doa bagi dirinya. Ajarkan pada anak bahwa doa dan wirid adalah senjata dan perisai bagi kaum mukmin. Karena itu, bila rasa takut menyerang, yang terbaik dilakukan adalah meminta perlindungan dan pertolongan Allah, Rabb seluruh makhluk. Sesekali ingatkan atau tanyakan pada anak arti dari doa tersebut. Sekaligus untuk mengetahui apakah sang anak sudah mengamalkan doa-doa tersebut ataukah belum.

3. Jauhkanlah anak dari hal-hal yang mendatangkan rasa takut kepada hantu.
Misalnya cerita misteri, patung dan lukisan makhluk bernyawa, dll. Cerita misteri atau berbau mistis kadang lebih menarik bagi anak karena imajinasi mereka yang tinggi dan masih belum terkontrol baik. Oleh karena itu, kenalkanlah anak dengan kisah-kisah para Nabi, sahabat-sahabat Rasulullah, maupun kisah shahih lain yang dapat mengajarkan anak keimanan, keberanian dan akhlaq yang baik. Jangan hanya sekedar menyediakannya buku/majalah, meskipun ini juga hal yang penting. Sesekali ceritakanlah langsung dengan lisan anda agar hikmah dan nilai kisah lebih mengena di hati anak. Ini juga akan lebih mendekatkan orang tua dengan sang buah hati.

4. Ajarkan pula pada anak untuk tidak menakut-nakuti temannya meski hanya bermaksud untuk bercanda. Pahamkan pada anak untuk bercanda dengan baik.

5. Bila orang tua ternyata adalah seorang penakut, berusahalah untuk tidak menampakkan hal tersebut di depan sang anak. Sebagaimana kita tidak ingin anak menjadi penakut, maka latihlah diri sendiri untuk tetap tenang dan menghilangkan sifat penakut dari diri kita.

Jika suatu ketika sifat penakut kita diketahui oleh sang anak, tak ada salahnya melibatkan anak dalam usaha menghilangkan sifat penakut kita. “Astagfirullah, tadi Ummi kok menjerit ya pas lampu mati? Menurut adik, Ummi harusnya gimana? Iya adik benar, harusnya tetap tenang dan minta perlindungan sama Allah. Lain kali kalau Ummi menjerit lagi, adik ingatin Ummi ya….” Hal ini juga akan mengajarkan pada anak bagaimana seharusnya ia bersikap ketika ada orang lain atau temannya yang ketakutan. Jangan pula menakut-nakuti anak dengan ancaman yang tak berdasar atau bertentangan dengan syariat. Misalnya, “Jangan main dekat sungai ya! Nanti diculik genderuwo penunggu sungai lho” Hal ini sering tanpa sadar dilakukan oleh para orang tua. Maka wahai para pendidik, bekalilah diri dengan ilmu syar’i dalam mendidik anak-anak kita.

6. Berdoalah untuk kebaikan anak
Hal yang sering luput dari orang tua adalah berdoa untuk anak-anaknya. Padahal doa merupakan salah satu pokok yang harus dipegang teguh orang tua. Doa orang tua bagi kebaikan anaknya adalah salah satu jenis doa yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan dikabulkan oleh Allah (HR. Baihaqi). Termasuk di antaranya, hendaknya orang tua mendoakan agar anak dilindungi dari gangguan setan.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain dengan mengucapkan,

“Aku memohon perlindungan untukmu berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa, dan juga dari setiap mata yang jahat.” Selanjutnya beliau bersabda “Adalah bapak kalian (yaitu Ibrahim) dahulu juga memohonkan perlindungan untuk kedua puteranya, Ismail dan Ishaq, dengan kalimat seperti ini.” (HR. Bukhari)

Inilah sebagian cara yang semoga bisa mengatasi rasa takut anak terhadap hantu. Orang tua hendaknya bersabar dalam membantu anak mengatasi rasa takutnya dengan tetap memprioritaskan pendidikan aqidah dan tauhid pada anak. Semoga kelak anak tumbuh menjadi sosok muslim-muslimah yang beraqidah lurus, beramal shalih dan mempunyai ketawakkalan tinggi kepada Allah. Wallahu Ta’ala a’lam.

muslimah.or.id

Minggu, 24 Januari 2010

Sabar


عن صهيب رضى اللّه عنه أنّ رسول اللّه قال : كان ملك فيمن كان قبلكم وكان له ساحر، فلمّاكبرللملك:إنّى قدكبرت فابعث إلىّ غلاماأعلّمه ، السّحرفبعث إليه غلامايعلّمه، وكان فى طريقه إذاسلك راهب فقعداليه وسمع كلامرفاعجبه وكان اذااتى السّاحرمرّبالرّاهب وقعداليه، فإذاأتى السّاحرضربه، فشكاذلك إلى الرّاهب فقال : اذاخشيت السّاحرفقل حبسنى أهلى ، واذاخشيت اهلك فقل حبسنى السّاحر، فبينماهوعلى ذلك اذاتى على دابةعظيمةقدحبست النّاس، فقال : اليوم اعلم السّاحرافضل ام الرّاهب أفضل ؟ فأخذحجرافقال : اللّهمّ ان كان أمرالرّاهب أحبّ إليك من أمرالسّاحرفاقتل هذه الدّابّةحتّى يمضى النّاس فرماهافقتلهاومضى النّاس، فأتى الرّاهب فأخبره فقال له الرّاهب : اى بنىّ انت اليوم افضل منّى قدبلغ من امرك ماارى، وانّك ستبتلى فان ابتليت فلاتدلّ علىّ وكان الغلام يبرءالاكمه والابرص، ويداوى النّاس من ساءرالادواء، فسمع جليس للملك كان قدعمى ، فاتاه بهداياكثيرة، فقال : ماههنالك اجمع ان أنت شفيتنى ؟ قال : انّى لاأشفى احدا، انّمايشفى اللّه تعالى ، فإن آمنت باللّه دعوت اللّه فشفاك، فآمن باللّه فشفاه اللّه فأتى الملك فجلس اليه كماكان يجلس فقال له الملك : من ردّعليك بصرك ؟ قال : ربّى ٠ قال : اولك ربّ غيرى ؟ قال : ربّى وربّك اللّه، فأخذه فلم يزل يعذّبه حتّى دلّ على الغلام، فجءبالغلام فقال له الملك : اى بنىّ قدبلغ من سحرك ماتبرءالأكمه والأبرص وتفعل وتفعل، فقال : انّى لاأشفى احداانّمايشفى اللّه تعال فأخذه فلم يزل يعذّبه حتّى دلّ على الرّاهب فجى ءبالرّاهب فقيل له : ارجع عن دينك، فأبى، فدعابالمنشار، فوضع المنشارفى مفرق رأسه، فشقّه حتّى وقع شقّاه، ثمّ جىءبجليس الملك، فقيل له : ارجع عن دينك، فابى٠ فوضع المنشارفى مفرق رأسه فشقّه به حتّى وقع شقّاه، ثمّ جى ءبالغلام، فقيل له : ارجع عن دينك، فأبى، فدفعه إلى نفرمن اصحابه، فقال : اذهبوابه إلى جبل كذاوكذا، فاصعدوابه الجبل، فإذابلغتم ذروته، فإن رجع عن دينه والاّفاطرحوه، فذهبوابه فصعدوابه الجبل، فقال : اللّهمّ اكفنيهم بماشءت ، فرجف بهم الجبل فسقطوا، وجاءيمشى إلى الملك، فقال له الملك : مافعل بأصحابك ؟ فقال : كفانيهم اللّه تعالى، فدفعه إلى نفرمن اصحابه فقال : اذهبوابه فاحملوه فى قرقوروتوسّطوابه البحرفإ رجع عن دينه والاّفاقذفوه فذهبوابه فقال اللّهمّ اكفنيهم بماشءت فانكفأت بهم السّفينةفغرقوا، وجاءيمشى إلى الملك، فقال له الملك : مافعل بأصحابك ؟ فقال كفانيهم اللّه تعالى فقال للملك : انّك لست بقاتلى حتّى تفعل ماآمرك به٠ قال : ماهو ؟ قال :تجمع النّاس فى صعيدواحد، وتصلبنى على جذع، ثمّ خذسهمامن كنانتى ثمّ ضع السّهم فى كبدالقوس، ثمّ قل : بسم اللّه ربّ الغلام ثمّ ارمنى فانّك اذافعلت ذلك قتلتنى فجمع النّاس فى صعيدواحد، وصلبه على جدع ثمّ أخذسهمامن كنانته ، ثمّ وضع السّهم فى كبدالقوس ثمّ قال بسم اللّه بربّ الغلام ثمّ رماه فوقع السّهم فى صدغه فوضع يده فى صدغه فمات، فقال النّاس : امنّابربّ الغلام، فأتى الملك فقيل له : ارأيت ماكنت تحذرقدواللّه نزل بك حذرك قدآمناس فامربالأخدودبأفواه السّكك فخدّت وأضرم فيهاالنّيران، وقال : من لم يرجع عن دينه فأقحموه فيها، أوقيل له اقتحم ففعلواحتّى حاءت امرأةومعهاصبىّ لهافتقاعست أن تقع فيهافقال لهاالغلام : ياامّه اصبرى فإنّك على الحقّ (رواه مسلم)٠

Dari Shuhaib radiyallahu'anhu, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Pada zaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu sudah lanjut usia, ia berkata kepada rajanya : "Sesungguhnya saya sekarang sudah lanjut usia. Oleh karena itu, perkenankanlah saya meminta tuan untuk mengirimkan seorang pemuda dan saya akan mengajarinya ilmu sihir." Raja itupun mengirimkan seorang pemuda untuk belajar ilmu sihir. Akan tetapi di tengah perjalanan ke tempat tukang sihir, ia bertemu dengan seorang pendeta, kemudian pemuda itu berhenti untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh pendeta itu, oleh karena itu, ia terlambat datang ke tempat tukang sihir. Ketika pemuda itu sampai ke tempat tukang sihir, maka pemuda itu dipukul. Kemudian ia mengadukan kepada pendeta, dan si pendeta berkata : "Apabila kamu takut terhadap tukang sihir itu, maka katakanlah bahwa keluargamu menahanmu, dan apabila kamu takut terhadap keluargamu maka katakanlah bahwa tukang sihir itu menahanmu."
Suatu hari ketika dalam perjalanan, dijumpai di tengah jalan seekor binatang yang sangat besar, sehingga orang-orang tidak berani meneruskan perjalanan. Pada saai itulah si pemuda berkata : "Nah, hari ini aku akan mengetahui tukang sihirkah yang lebih utama ataukah pendeta ?" Pemuda itu mengambil batu seraya berkata : "Ya Allah, apabila ajaran pendeta itu lebih Engkau sukai maka matikanlah binatang yang sangat besar itu agar orang pun dapat meneruskan perjalanannya." Kemudian ia lemparkan batu itu, dan matilah binatang itu, sehingga orang-orangpun dapat melanjutkan perjalannya. Ia lalu mendatangi pendeta itu dan menceritakan apa yang baru terjadi. Pendeta itu berkata : "Wahai anakku, kamu sekarang lebih utama dari saya karena kamu telah menguasai segala yang aku ketahui, dan ketahuilah, kamu nanti akan mendapat ujian ; tetapi ingatlah, apabila kamu diuji, janganlah kamu menyebut-nyebut namaku." Setelah itu pemuda tadi dapat menyembuhkan orang buta, penyakit belang dan berbagai jenis penyakit lain.
Tersebarlah berita, bahwa kawan raja sakit mata hingga buta dan sudah diusahakan ke mana-mana tetapi belum juga sembuh. Kemudian datanglah ia kepada pemuda itu dengan membawa beraneka macam hadiah dan berkata : "Seandainya kamu dapat menyembuhkan saya, akan saya penuhi semua permintaanmu." Pemuda itu menjawab : "Sesungguhnya saya tidak bisa menyembuhkan seseorang, tetapi yang menyembuhkan adalah Allah Ta'ala. Apabila engkau beriman kepada Allah Ta'ala niscaya saya akan berdoa kepada-Nya agar menyembuhkan penyakitmu." Maka berimanlah orang itu kepada Allah Ta'ala dan sembuhlah penyakitnya.
Orang itu datang ke tempat sang raja dan duduk bersama sebagaimana biasanya, kemudian sang raja bertanya kepadanya : "Siapakah yang menyembuhkan matamu itu ?" Ia menjawab : "Tuhanku." Sang raja berkata : "Apakah kamu mempunyai Tuhan selain aku ?" Ia menjawab : "Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." Maka raja itu langsung menyiksa sehingga orang itu menunjuk kepada pemuda tadi. Maka dipanggillah pemuda itu dan berkatalah sang raja kepadanya : "Hai anakku, sihirmu sangat ampuh sehingga dapat menyembuhkan orang buta, penyakit belang dan kamu bisa berbuat ini dan itu." Pemuda itu menjawab : "Sesungguhnya yang bisa menyembuhkan hanya Allah Ta'ala. Maka disiksalah pemuda itu sehingga ia menunjuk kepada sang pendeta, maka dipanggillah pendeta itu. Raja itupun berkata kepadanya : "Kembalilah kamu kepada agamamu semula." Tetapi pendeta itu tidak mau, kemudian raja itu menyuruh untuk menggergajinya dari atas kepala, sehingga badannya terbelah dua. Kemudian dipanggillah kawan raja itu dan dikatakan kepadanya : "Kembalilah pada agamamu semula." Tetapi orang itu tidak mau, ia pun digergaji dari atas kepala sampai badanya terbelah dua. Kemudian dipanggillah pemuda itu. Raja itu kemudian berkata : "Kembalilah pada agamamu semula. Tetapi pemuda itupun menolak, kemudian ia diserahkan kepada pasukan dan memerintahkan untuk membawanya ke suatu gunung. Ketika sampai di puncak gunung, paksalah supaya kembali kepada agamanya semula. Bila tidak, lemparkan ia dari atas gunung biar mati. Pasulan itu pun membawa pemuda tadi ke puncak gunung, dan di sana pemuda itu berdoa : "Ya Allah, hindarkanlah saya dari kejahatan mereka sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki." Kemudian bergoncanglah gunung itu sehingga pasukan tadi berguling dari atas gunung. Pemuda itu mendatanginya, dan sang raja bertanya keheranan : "Apa yang diperbuat oleh pasukan itu ?" Pemuda itu menjawab : "Allah Ta'ala telah menghindarkan saya dari kejahatan mereka." Pemuda itu ditangkapnya diserahkan kembali kepada sekelompok pasukan yang lain, untuk membawa pemuda itu naik kapal, untuk menenggelamkan di tengah lautan. Pasukan itu membawanya naik kapal, kemudian pemuda itu berdoa : Ya Allah, hindarkanlah saya dari kejahatan mereka sesuai dengan yang Engkau kehendaki." Kemudian kapal itu terbalik dan tenggelamlah mereka. Pemuda itu pun kembali kepada sang raja, dan sang raja bertanya lagi keheranan : "Apakah yang diperbuat oleh pasukan itu?" Pemuda itu menjawab : "Allah Ta'ala telah menghindarkan aku dari kejahatan mereka." Kemudian pemuda itu berkata kepada sang raja : "Sesungguhnya engkau tidak akan bisa mematikan saya sebelum engkau memenuhi permintaanku." Raja bertanya : "Apakah yang engkau inginkan ?" Pemuda itu menjawab : "Engkau harus mengumpulkan orang banyak dalam satu lapangan dan saliblah saya diatas sebuah tiang, kemudian ambillah anak panahku dari tempatnya serta letakkanlah pada busurnya, kemudian bacalah : "Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini," kemudian lepaskanlah anak panah itu kearahku. Apabila engkau berbuat seperti itu, maka engkau akan berhasil membunuhku. Mendengar yang demikian, raja itu mengumpulkan orang banyak di salah satu lapangan dan menyalib pemuda itu di atas tiang kemudian ia mengambil anak panah dari tempatnya dan diletakkan pada busurnya kemudian ia membaca : "Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini," dan dilepaskanlah anak panah itu ke arah pelipisnya, kemudian pemuda itu meletakkan tangannya pada pelipis yang terluka, lalu ia pun mati. Pada saat itu juga serentak orang-orang berkata : "Kami beriman dengan Tuhannya pemuda itu." Ada seorang yang menyampaikan berita itu kepada sang raja seraya berkata : "Tahukah engkau, apa yang kau khawatirkan sekarang telah menjadi kenyataan. Demi Allah. kekhawatiranmu tidak ada gunanya sama sekali karena orang-orang sudah beriman." Kemudian raja itu memerintahkan untuk membuat parit yang besar pada setiap persimpangan jalan, didalamnya dinyalakan api, kemudian memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mau kembali kepada agama semula, maka akan dilemparkan ke dalam parit. Perintah itu dilaksanakan. Ada seorang wanita yang berpegang teguh pada agama yang hak, namun ia membawa bayinya dan merasa sangat kasihan kepada anaknya kalau ia beserta anaknya masuk ke dalam parit, akan tetapibayi itu berkata : "Wahai ibu, sabarlah, karena engkau berada di dalam kebenaran"

[HR. Muslim].

Kamis, 21 Januari 2010

Hukum Merayakan Valentine's Day

Pertanyaan:
Akhir-akhir ini telah merebak perayaan valentine’s day terutama di kalangan para pelajar putri, padahal ini merupakan hari raya kaum Nasrani. Mereka mengenakan pakaian berwarna merah dan saling bertukar bunga berwarna merah. Kami mohon perkenanan syaikh untuk menerangkan hukun perayaan semacam ini, dan apa saran syaikh untuk kaum muslimin sehubungan dengan masalah-masalah seperti ini. Semoga Allah menjaga dan memelihara syaikh.
Jawaban:
Tidak boleh merayakan valentine’s day karena sebab-sebab berikut:
  1. Pertama: bahwa itu adalah hari raya bid’ah tidak ada dasarnya dalam syari’at.
  2. Kedua: bahwa itu akan menimbulkan kecengengan dan kecemburuan.
  3. Ketiga: Bahwa itu akan menyebabkan sibuknya hati dengan perkara-perkara bodoh yang bertolak belakang dengan tuntunan para salaf radhiyallohu’anhum.
Karena itu pada hari tersebut tidak boleh ada simbol-simbol perayaan, baik berupa makanan, minuman, pakaian, saling memberi hadiah ataupun yang lainnya.
Hendaknya setiap muslim merasa mulia dengan agamnya dan tidak merendahkan diri dengan menuruti setiap ajakan. Semoga Allah Subhanahu wata’alla melindungi kaum muslimin dari setiap fitnah, baik yang nyata maupun yang tersembunyi dan semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan bimbingan dan petunjuk-Nya.
Fatwa Syaikh Ibnu Ustaimin, tanggal 5/11/1420 H yang beliau tanda tangani
***
Pertanyaan:
Setiap tahunnya pada tanggal 14 februari sebagian orang merayakan valentine’s Day. Mereka saling bertukar hadiah berupa bunga merah, mengenakan pakaian berwarna merah, saling mengucapkan selamat dan sebagian toko atau produsen permen membuat atau menyediakan permen-permen yang berwarna merah lengkap dengan gambar hati, bahkan sebagian toko mengiklankan produk-produknya yang dibuat khusus untuk hari tersebut. Bagaimana pendapat syaikh tentang:
Pertama: Merayakan hari tersebut?
Kedua: Membeli produk-produk khusus tersebut pada hari itu?
Ketiga: Transaksi jual beli ditoko (yang tidak ikut merayakan) yang menjual barang yang bisa dihadiahkan pada hari tersebut kepada orang yang hendak merayakannya?
Semoga Allah membalas syaikh dengan kebaikan.
Jawaban:
Berdasarkan dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunah, para pendahulu umat sepakat menyatakan bahwa hari raya dalam islam hanya ada dua; Idul Fitri dan Idul Adha selain itu semua hari raya yang berkaitan dengan seseorang, kelompok, peristiwa atau lainnya adalah bid’ah, kaum muslimin tidak boleh melakukannya, mengakuinya, menampakkan kegembiraan karenanya dan membantu terselenggaranya karena perbuatan ini merupakan perbuatan yang melanggar batas-batas Allah, sehingga dengan begitu pelakunya berarti telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Jika hari raya itu merupakan simbol orang-orang kafir, maka ini merupakan dosa lainnya, karena dengan begitu berarti telah ber-tasyabbuh dengan mereka dan loyal terhadap mereka di dalam kitab-Nya yang mulia dan telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud)
Valentine’s Day termasuk jenis yang disebutkan tadi, karena merupakan hari raya Nasrani, maka seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak boleh melakukannya, mengakuinya atau ikut mengucapkan selamat bahkan seharusnya meninggalkannya dan menjauhinya sebagai sikap taat terhadap Allah dan Rosul-Nya serta untuk membantu penyelenggaraan hari raya tersebut dan hari raya lainnya yang diharamkan baik itu berupa iklan dan sebagainya, karena semua ini termasuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan serta maksiat terhadap Allah dan Rosul-Nya sementara Allah Subhanahu wata’alla telah berfirman:
“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS. Al Ma’idah: 2)
Dari itu hendaknya setiap muslim berpegangteguh dengan Al kitab dan As sunah dalam semua kondisi lebih-lebih pada saat-saat terjadinya fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya pula ia benar-benar waspada agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan orang-orang yang dimurkai, orang-orang yang sesat dan orang-orang yang fasik yang tidak mengajarkan kehormatan dari Allah dan tidak menghormati Islam. Dan hendaknya seorang muslim kembali kepada Allah dengan memohon petunjuk-Nya dan keteguhan didalam petunjuk-Nya. Sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk selain Allah dan tidak ada yang dapat meneguhkan dalam petunjuk-Nya selain Allah Subhanahu Wata’alla. Hanya Allah-lah yang kuasa memberi petunjuk.
Salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Fatwa Al-Lajnah Ad-Da imah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta (21203) tanggal 22/11/1420 H
***

Masuk Surga Tanpa Hisab

Orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), masuk surga setelah dihisab, dan masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka. Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.

Sempurnakan Tauhid !
Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat. Alloh berfirman, “Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb).” (An Nahl: 120). Dalam ayat ini, Alloh memuji nabi Ibrohim dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Mencontoh Para Nabi Dalam Bertauhid
Di dalam Al Qur’an Alloh memberikan uswah (teladan) kepada kita pada dua sosok manusia yaitu Nabi Ibrohim dan Nabi Muhammad ‘alaihimashsholaatu was salaam. Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja’.” (Al Mumtahanah: 4)
Perhatikanlah, Ibrohim ‘alaihis salam menjadi teladan dengan memurnikan tauhid dengan cara berlepas diri dari kesyirikan. Dalam ayat selanjutnya, Alloh berfirman, “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrohim dan umatnya) ada teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Alloh dan (keselamatan pada) hari kemudian.” (QS. Al Mumtahanah: 6). Tidak diragukan lagi, balasan yang paling besar dan keselamatan yang dimaksud adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Itulah keselamatan yang hakiki yang dinanti oleh setiap jiwa yang pasti akan merasakan mati.
Alloh juga berfirman tentang Nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (Al Ahzab: 21). Nabi Muhammad adalah orang yang paling paham tentang tauhid, maka orang yang hendak mempraktekkan tauhid dalam dirinya harus mencontoh ajaran beliau. Ya Alloh, masukkanlah kami dalam golongan orang yang mengharap rahmat-Mu dan banyak menyebut-Mu.

Patuh Terhadap Perintah Alloh
Nabi Ibrohim adalah seorang yang sangat patuh kepada Alloh, teguh dalam ketaatannya dan senantiasa berada dalam ketundukannya, apapun keadaannya. Buktinya ketika beliau diuji dengan perintah untuk menyembelih putra kesayangannya, beliau pun tetap patuh melaksanakannya (Qoulul Mufid karya Syaikh Al Utsaimin). Begitu juga keturunannya, pemimpin para Nabi, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, hamba Alloh yang paling taat. Alloh berfirman, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (Az Zumar: 9)
Keluar dari Kegelapan Syirik Menuju Cahaya Tauhid
Ibnul Qoyyim mengatakan, “Hanif adalah menujukan ibadah hanya kepada Alloh (tauhid) dan berpaling dari peribadatan kepada selain-Nya (syirik).” (Fathul Majid). Inilah sifat orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, yakni betul-betul menjaga kemurnian tauhidnya dengan berpaling sejauh-jauhnya dari kesyirikan dengan segala macam pernak-perniknya. Mujahid berkata, “Nabi Ibrohim adalah seorang imam walaupun beliau beriman seorang diri di tengah kaumnya yang kafir.” (Tafsir Ibnu Katsir, An Nahl: 120). Maksudnya beliau adalah sosok yang selamat dari kesyirikan baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.” (Al Jadid karya syaikh Al Qor’awi). Maka untuk memurnikan tauhid, kita harus berpaling dari syirik dan pelakunya.

Tawakkal Kepada Alloh, Itu Kuncinya
Mari kita simak sabda Nabi yang paling kita cintai dan sangat mencintai umatnya, Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam tentang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Beliau bersabda, “Beberapa umat ditampakkan kepadaku, lalu kulihat seorang nabi bersama beberapa orang, ada seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai siapapun. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku satu golongan dalam jumlah yang amat banyak, sehingga aku mengira mereka adalah umatku. Maka ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Aku melihat lagi, ternyata di sana ada jumlah yang lebih banyak lagi. Ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Itulah umatmu, tujuh puluh ribu orang di antara mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.’ Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Maka orang-orang berkumpul bersama orang-orang yang sudah berkumpul. Sebagian mereka mengatakan, ‘Barangkali mereka adalah para sahabat Rosululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain mengatakan, ‘Boleh jadi mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan sesuatu pun beserta Alloh.’ Mereka pun mengatakan banyak hal. Lalu Rosululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan mereka memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta untuk (berobat dengan cara) disundut dengan api, dan tidak melakukan tathayyur, serta mereka bertawakal kepada Alloh.’ Lalu ‘Ukkasyah bin Mihshon berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Alloh agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudian ada orang lain berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Alloh agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau sudah didahului ‘Ukasyah.’” (HR. Al Bukhori dan Muslim)
Di antara pelajaran paling berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwa tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara disundut dengan besi panas (kayy), dan tidak menganggap akan mengalami kesialan setelah mendengar atau melihat sesuatu (tathoyyur) merupakan wujud dan realisasi dari tawakkal kepada Alloh. Karena itulah Rosululloh menganjurkan kepada umatnya agar tidak melakukan ketiga hal tersebut, karena pengaruh ruqyah dan kayy yang sangat kuat sehingga dikhawatirkan seorang hamba menggantungkan harapan kesembuhannya kepada cara pengobatan tersebut dan bukannya bersandar kepada Alloh. Khusus untuk tathoyyur maka hukumnya tidak diperbolehkan. Kesimpulannya, keadaan orang yang akan masuk surga sangat tergantung dari kadar tawakkal setiap orang, semakin tinggi tingkat tawakkalnya semakin tinggi pula tingkat kesempurnaan tauhidnya. Allohlah tempat kita bersandar dan menyerahkan urusan. Wallohu a’lam.
(Disarikan dari kajian Kitab Tauhid bersama Al Ustadz Abu Isa -hafizhohullah-)
***
Penulis: Nurdin Abu Yazid
Artikel www.muslim.or.id

Selasa, 19 Januari 2010

Pentingnya Menuntut Ilmu

Kita sebagai seorang muslim diperintahkan untuk menuntut ilmu, tentu saja ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu yang bermanfaat, karena apabila yang kita pelajari ilmu yang tidak bermanfaat, maka hanya kesia-siaanlah yang akan kita dapat. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 طلب العلم فريضة على كلّى مسلم

"Menuntut ilmu wajib atas setiap Muslim" [Shahih Al-Jami', no. 3913].

Dan dengan ilmu pula Allah akan memudahkan jalannya kesurga dan akan mengangkat derajat orang yang menuntut ilmu.
Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda Radhiyallahu Anha, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda" :

 من سلك طريقايبتغي فيه علماسهل الله له طريقاإلى الجنة  وإنّ الملا عكة لتضع أجنحتها لطا لب العلم رضابمايضع  وإنّ العالم ليستغفرله من في السّموات ومن في الأرض حتّى الحيتان في الماء  وفضل العالم على العابدكفضل القمرعلى ساعرالكواكب  وإنّ العلماءورثةالأنبياء  وإنّ الأنبياء لم يورّثوديناراولادرهما  وإنّماورّثواالعلم  فمن أخذه أخذبحظّ وافر

"Barangsiapa yang melalui suatu jalan untuk mencari imu, Allah akan memudahkan baginya jalan kesurga. Sesungguhnya para malaikat membentang sayapnya untuk para penuntut ilmu karena mereka ridha atas apa yang ia lakukan. Orang yang berilmu akan didoakan untuknya ampunan oleh yang ada dilangit maupun yang ada dibumi sampai ikan yang ada dalam lautan. Keutamaan orang yang berilmu dengan orang yang beribadah adalah seperti keutamaan bulan dengan seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris nabi, dan nabi tidak pernah mewariskan dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, ia telah mendapatkan baian yang sangat besar" [HR. Abu Dawud 93641); At-Tirmidzi (3682); Ibnu Majah (223); Ibnu Hibban (88); Ahmad (5/196); Ad-Darimi (1/98); Al-Baghawi, syaih As-Sunnah (1/275-276); Ibnu Abdul Barr, Jami' Bayan Al-Ilmi wa Fadhlih, (1/36-37); At-Thahawi, Musykil Al-Atsaar (1/429); Al-Iman (25 dan 115), serta Shahih Al-Jami' no. 6297].

Seorang penuntut ilmu juga diharuskan mengamalkan ilmu yang dia peroleh/pelajari , dengan begitu kita menjaga ilmu, karena sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu yang telah Ia anugrahkan kepada kalian, akan tetapi ilmu tersebut akan hilang dengan meninggalnya para ulama. Dengan itu tinggallah orang-orang bodoh. Mereka ditanya dan berfatwa. Maka, mereka sesat dan menyesatkan.
 Al-Fudhail berkata; Yang dituntut dari ilmu adalah pengamalan, pengamalan adalah wujud dari ilmu. Dia juga berkata; Manusia berkewajiban menuntu ilmu. Apabila ilmu telah diperoleh, ia berkewajiban mengamlkannya. Abdullah bin Mu'taz berkata, Ilmu bila tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.

Ilmu adalah salah satu amalan yang tidak akan putus walaupun kita sudah meninggal.
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 إذامات ابن ادم انقطع عمله إلّامن ثلاث  صدقة جارية  او علم ينتفع به  أوولدصالح يدعوله

"Apabila meninggal anak Adam, terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at, dan anak shalih yang selalu mendoakannya" [HR. Muslim].

Wallahu'am....

Penulis : Akhmadi

Senin, 18 Januari 2010

Hukum Shalat ketika makanan telah dihidangkan atau menahan buang air besar dan kencing.

Sebagian manusia salah mengambil sikap ketika salah seorang dari mereka telah merasakan lapar yang sangat sedangkan makanan telah dihidangkan, namun dia tidak makan hingga shalat terlebih dahulu karena beranggapan bahwa itulah yang benar.
Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda :

إذاوضع عشاءأحدكم وأقيمت الصلاة فابدءولا يعجلنّ حتّى يفرغ منه
"Apakah makan malam salah seorang dai kalian telah dihidangkan dan iqamah shalat telah dikumandangkan, maka mulailah dengan makan malam (terlebih dahulu) dan janganlah dia tergesa-gesa hingga selesai darinya" [ HR. Muslim dari Ibnu Umar Kitab al-Masajid, 5/63, no. 66].

Dan Beliau Shalallahu'alaihi wa sallam juga bersabda :

لا صلاةبحضرةالطعام ولاصلاةوهويدافعه الأخبثان
"Shalat tidaklah sempurna ketika makanan telah dihidangkan, dan shalat tidaklah sempurna sedangkan dia menahan buang air besar dan kencing" [HR. Muslim dari Aisyah Kita al-Masajid, 5/65, no. 67].

Imam an-Naawi rahimahumullah berkata: "Didalam hadist-hadist ini terdapat penjelasan tentang makruhnya shalat ketika makanan telah dihidangkan dan dia mau memakannya. Karena hal tersebut dapat mengganggu hati dan menyebabkan hilangnya kesempurnaan khusyu'. Dan juga dimakruhkan shalat ketika sedang menahan al-Akhbatsain, yakni buang air besar dan kencing. Diikutkan juga dalam hal ini sesuatu yang memiliki makna sama yakni yang dapat mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan khusyu'.
Sabda Beliau Shalallahu'alaihi wa sallam :

ولا يعجلنّ حتّى يفرغ منه
"Dan janganlah tergesa-gesa hingga selesai darinya",
merupakan dalil bahwa seharusnya dia makan dengan sempurna terlebih dahulu, dan inilah pemahaman yang benar. Adapaun penakwilan sebagian sahabat kami bahwa dia makan satu suapan yang dapat menghilangkan lapar yang sangat, maka ini tidaklah benar, dan hadist ini sangat jelas dalam membatalkan pemahaman tersebut. [Syarh Shahih Muslim, karya Imam an-Nawawi, 5/63-64].

Wallahu'alam..

Penulis : Akhmadi.

Minggu, 03 Januari 2010

Birul Walidain

Bismillah...
Kaum muslimin yang semoga selalu dimuliakan oleh Allah. Salah satu kewajiban kita sebagai muslim adalah menghormati orang  tua. Karena dengan adanya orang tualah kita bisa jadi seperti sekarang ini. Orang tua kita yang selalu memberikan kasih sayang tiada bertepi kepada kita dan tanpa mengharap imbalan apapun, orang tua hanyalah menginginkan kita bahagia. Maka sudah semestinya kita berusaha pula membahagiakan orang tua. Dan Allah pun menyerukan agar kita selalu berbakti kepada kedua orang tua, bahkan sering dalam Firman-Nya Allah menyerukan berbakti kepada orang tua setelah menyerukan taat kepada Allah, sebagaimana Firman Allah :

 قل تعا لوأأتل ماحرم ربّكم  عليكم  الاتشركوابه شيعا  وبالولدين إملق  نحن نرزقكم وإيّاهم  ولا تقربواالفوحش ما ظهرمنها ومابطن  ولا تقتلواالنفس الّتى حرّم الله الاّ بالحقّ  ذلكم وصّكم به لعلّكم تعقلون

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]." Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya) [QS. Al An’am : 151].

Betapa tingginya derajat berbakti kepada kedua orang tua, karena begitu besarnya kebaikan mereka untuk kita. Hingga ada riwayat.
“Suatu hari, Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkta kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar,menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekedar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sdh brbuat baik.Allah akan mmbrikan blsan yg byk kpdamu terhadap sedikit amal yg engkau lakukan.”(Diambil dari kitab al-Kabair, karya adz-Dzahabi).

“Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya. (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah).

Maka dari itu sayangilah selalu orang tua kita, apalagi yang orang tuanya masih hidup sehingga kita masih bisa berbakti dan menyenangkan hati mereka. Namun untuk yang orang tuanya sudah tiada hendaknya kita selalu mendoakan orang tua kita, karena doa seorang anak yang salah/salehah selalu tersampaikan kepada mereka.
Dan ingatlah jangan sekali-kali menyakiti hati mereka, sebagaimana Firman Allah yang artinya :

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia [QS. Al Israa’ : 23].

Kita wajiblah taat pada kedua orang tua, selama ketaatan itu tidak bertentang dengan syari’at.
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” [QS. Al ‘Ankabuut : 29]

Maka kasihilah orang tua kita, rendahkanlah suara ketika berbicara pada keduanya, doakan mereka, sehingga senanglah hati orang tua kita hingga Allah ridho kepada kita.... Amin..

Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil..............  

Penulis : Akhmadi N