Kamis, 06 Mei 2010

وعن أبى حبيب، بضمّ ااخاءالمجمة، عبداللّه بن
الزّبيربن العوّام القرشىّ الاسدىّ رضى اللّه عنهماقال : لمّاوقف
الزّبيريوم الجمل دعانى فقمت إلى جنبه فقال : يابنىّ إنّه لايقتل اليوم إلاّظالم
أومظلوم . وإنّى لاأرانى إلاّسأقتل اليوم مظلوماوإنّ من أكبر همّى لدينى ،
أفرّى ديننايبقى من مالناشيءا ؟ ثمّ قال : يابنىّ بع مالناواقض دي......نى
وأوصى بالثّلث وثلثه لبنيه، يعنى لبنى عبداللّه بن الزّبيرثلث الثّلث،
قال : فإن فضل من مالنابعدقضاءالدّين شيء فثلثه لبنيك، قال هشام وكان
ولدعبداللّه قدرأى بعض بنى الزّبيرخبيب وعبّاد، وله يومءذتسعةبنين وتسع
بنات، قال عبداللّه : فجعل يوصينى بدينه ، ويقول : يابنىّ إن عجزت عن
شيءمنه فاستعن عليه بمولاى . قال : فواللّه مادريت ماارادحتّى قلت
ياأبت من مولاك ؟ قال : اللّه قال : فواللّه ماوقعت فى كربةمن دينه
إلاّقلت : يامولى الزّبيراقض عنه دينه، فيقضيه، قال : فقتل الزّبيرولم يدع
ديناراولادرهماإلاّأرضين منهاالغابةوإحدى عشرةدارابالمدينةودارين بالبصرةودارابالكوفةودارابمصر،
قال : وإنّماكاندينه الّذى عليه أنّ الرّجل كان يأتيه بالمال فيستودعه
ايّاه ، فيقول الزّبير : لا، ولكن هوسلف إنّى أخشى عليه الضّيعة،
وماولى إمارةقطّ، ولاجبايةولاخراجاولاشيءاإلاّأن يكونفى غزوةمع رسول اللّه صلّى
اللّه عليه وسلّم أومع أبى بكروعمروعثمان رضى اللّه عنهم، قال عبد اللّه :
فحسبت ماعليه من الدّين فوجدته ألفى ألف وماءتى ألف فلقى حكيم بن حزام
عبداللّه بن الزّبير، فقال : يابن أحى ، كم على أخى من الدّين ؟
فكتمته، وقلت : ماءةألف، فقال حكيم : واللّه ماأرى أموالكم تسع هذه ،
فقال عبداللّه : أرأيتك إنكانت الفى الفى الف وماءتى الف ؟ قال :
ماأراكم تطيقون هذا، فإن عجزتم عن شيءمنه فاستعينوابى ، قال : وكان
الزّبيرقداشترى الغابةبسبعين وماءةألف، فباعهاعبداللّه بألف ألف
وستّماءةالف ثمّ قام فقال : من كان له على الزّبيرشيءفليوافنابالغابة،
فأتاه عبداللّه بن جعفروكان له على الزّبيرأربعماءةالف، فقال لعبداللّه
: إن شءتم تركتهالكم قال عبداللّه : لا، قال : فإن شءتم
جعلتموهافيماتؤخّرون إن أخّرتم، قال عبداللّه : لا، قال : فاقطعوالى
قطعة، قال عبداللّه : لك من ههناإلى ههنافباع عبداللّه منهافقضى دينه
وأوفاهوبقى منهاأربعةأسهم ونصف، فقدم على معاويةوعنده عمروبن عثمان
والمنذربن الزّبيروابن زمعةفقال له مغاوية : كم قوّمت الغابة ؟ قال :
كلّ سهم ماءةالف، قال : كم بقى منها ؟ قال : أربعةأسهم ونصف، فقال
المنذربن الزّبير : قد أخدت سهمابماءةالف، وقلل عمروبن عثمان : قدأخدت
سهمابماءةألف وقال ابن زمعة : قدأخدت سهمابماءةألف، فقال معاوية : كم
بقى ؟ قال : سهم ونصف سهم، فقال : قدأخدته بخمسين وماءةألف، قال : وباع
عبداللّه بن جعفرنصيبه من معاويةبستّ ماءةألف، فلمّافرغ ابن الزّبيرمن
قضاءدينه، قال : بنوالزّبير : اقسم بينناميراثنا، قال : واللّه لاأقسم بينكم
حتّى أنادى بالموسم أربع سنين الا من كان له على الزّبيردين
فليأينافلنقضيه، فجعل كلّ سنة ينادى فى الموسم، فلمّامضى أربع سنين قسم
بينهم ورفع الثّلث وكان للزّبيرأربع نسوةفأصاب كلّ امرأةالف الف
وماءتاالف، فجميع ماله خمسون ألف ألف وماءتاألف(رواه البخارى)٠

Selasa, 04 Mei 2010

Orang Mukmin Tidak Pernah Stres

Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. Allah Ta’ala berfirman,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs Al Anbiya’: 35)


Ibnu Katsir –semoga Allah Ta’ala merahmatinya– berkata, “Makna ayat ini yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342, Cet Daru Thayyibah)

Kebahagiaan hidup dengan bertakwa kepada Allah

Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan Hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu.” (Qs al-Anfaal: 24)

Ibnul Qayyim -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan yang bermanfaat hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik). Meskipun dia memiliki kehidupan (seperti) hewan yang juga dimiliki oleh binatang yang paling hina (sekalipun). Maka kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin.” (Kitab Al Fawa-id, hal. 121, Cet. Muassasatu Ummil Qura’)

Inilah yang ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam banyak ayat al-Qur’an, di antaranya firman-Nya,

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs ِAn Nahl: 97)

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Huud: 3)

Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Ibnul Qayyim mengatakan, “Dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat.” (Al Waabilush Shayyib, hal. 67, Cet. Darul Kitaabil ‘Arabi)

Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ibadah shalat, yang dirasakan sangat berat oleh orang-orang munafik, sebagai sumber kesejukan dan kesenangan hati, dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وجعلت قرة عيني في الصلاة

“Dan Allah menjadikan qurratul ‘ain bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat.” (HR. Ahmad 3/128, An Nasa’i 7/61 dan imam-imam lainnya, dari Anas bin Malik, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ish Shagiir, hal. 544)

Makna qurratul ‘ain adalah sesuatu yang menyejukkan dan menyenangkan hati. (Lihat Fatul Qadiir, Asy Syaukaani, 4/129)

Sikap seorang mukmin dalam menghadapi masalah

Dikarenakan seorang mukmin dengan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, maka masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan karena keimanannya yang kuat kepada Allah Ta’ala sehingga membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allah Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Dengan keyakinannya ini Allah Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs At Taghaabun: 11)

Ibnu Katsir mengatakan, “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/137)

Inilah sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Meskipun Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya yang maha sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala dalam mengahadapi musibah tersebut. Tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang mukmin.

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut. Adapun orang-orang kafir, maka mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan). Sungguh Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لا يَرْجُونَ

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (Qs An Nisaa’: 104)

Oleh karena itu, orang-orang mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan. Akan tetapi, orang-orang mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Ta’ala.” (Ighaatsatul Lahfan, hal. 421-422, Mawaaridul Amaan)

Hikmah cobaan

Di samping sebab-sebab yang kami sebutkan di atas, ada faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam meringankan semua kesusahan yang dialami seorang mukmin dalam kehidupan di dunia, yaitu dengan dia merenungkan dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allah Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang diberlakukan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Karena dengan merenungkan hikmah-hikmah tersebut dengan seksama, seorang mukmin akan mengetahui dengan yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah justru untuk kebaikan bagi dirinya, dalam rangka menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allah Ta’ala.

Semua ini di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allah Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya. Dengan sikap ini Allah Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi:

أنا عند ظنّ عبدي بي

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.” (HSR al-Bukhari no. 7066 dan Muslim no. 2675)

Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Ta’ala. (Lihat kitab Faidhul Qadiir, 2/312 dan Tuhfatul Ahwadzi, 7/53)

Di antara hikmah-hikmah yang agung tersebut adalah:

[Pertama]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya, yang kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allah Ta’ala. Oleh karena itu, musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut akan meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan hal. 422, Mawaaridul Amaan). Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Ta’ala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)” (HR At Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4023, Ibnu Hibban 7/160, Al Hakim 1/99 dan lain-lain, dishahihkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam Silsilatul Ahaadits Ash Shahihah, no. 143)

[Kedua]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 424, Mawaaridul amaan) Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HSR Muslim no. 2999)

[Ketiga]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allah Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang menjadikannya sangat jauh berbeda dengan keadaan dunia, karena Allah menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hamba tersebut hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 423, Mawaaridul Amaan dan Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, hal. 461, Cet. Dar Ibni Hazm). Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل

“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HSR Al Bukhari no. 6053)

Penutup

Sebagai penutup, kami akan membawakan sebuah kisah yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim tentang gambaran kehidupan guru beliau, Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di zamannya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –semoga Allah merahmatinya–. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allah Ta’ala takdirkan bagi dirinya.

Ibnul Qayyim bercerita, “Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada gurunya, Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi bersamaan dengan itu semua, aku mendapati beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat), maka dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” (Al Waabilush Shayyib, hal. 67, Cet. Darul Kitaabil ‘Arabi)

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

وعن أبى حبيب، بضمّ
ااخاءالمجمة، عبداللّه بن الزّبيربن العوّام القرشىّ الاسدىّ رضى اللّه عنهماقال :
لمّاوقف الزّبيريوم الجمل دعانى فقمت إلى جنبه فقال : يابنىّ إنّه لايقتل اليوم
إلاّظالم أومظلوم . وإنّى لاأرانى إلاّسأقتل اليوم مظلوماوإنّ من أكبر همّى لدينى ،
أفرّى ديننايبقى من مالناشيءا ؟ ثمّ قال : يابنىّ بع مالناواقض دي...نى وأوصى بالثّلث
وثلثه لبنيه، يعنى لبنى عبداللّه بن الزّبيرثلث الثّلث، قال : فإن فضل من
مالنابعدقضاءالدّين شيء فثلثه لبنيك، قال هشام وكان ولدعبداللّه قدرأى بعض بنى
الزّبيرخبيب وعبّاد، وله يومءذتسعةبنين وتسع بنات، قال عبداللّه : فجعل يوصينى
بدينه ، ويقول : يابنىّ إن عجزت عن شيءمنه فاستعن عليه بمولاى . قال : فواللّه
مادريت ماارادحتّى قلت ياأبت من مولاك ؟ قال : اللّه قال : فواللّه ماوقعت فى
كربةمن دينه إلاّقلت : يامولى الزّبيراقض عنه دينه، فيقضيه، قال : فقتل الزّبيرولم
يدع ديناراولادرهماإلاّأرضين منهاالغابةوإحدى عشرةدارابالمدينةودارين
بالبصرةودارابالكوفةودارابمصر، قال : وإنّماكاندينه الّذى عليه أنّ الرّجل كان
يأتيه بالمال فيستودعه ايّاه ، فيقول الزّبير : لا، ولكن هوسلف إنّى أخشى عليه
الضّيعة، وماولى إمارةقطّ، ولاجبايةولاخراجاولاشيءاإلاّأن يكونفى غزوةمع رسول اللّه
صلّى اللّه عليه وسلّم أومع أبى بكروعمروعثمان رضى اللّه عنهم، قال عبد اللّه :
فحسبت ماعليه من الدّين فوجدته ألفى ألف وماءتى ألف فلقى حكيم بن حزام عبداللّه بن
الزّبير، فقال : يابن أحى ، كم على أخى من الدّين ؟ فكتمته، وقلت : ماءةألف، فقال
حكيم : واللّه ماأرى أموالكم تسع هذه ، فقال عبداللّه : أرأيتك إنكانت الفى الفى
الف وماءتى الف ؟ قال : ماأراكم تطيقون هذا، فإن عجزتم عن شيءمنه فاستعينوابى ، قال
: وكان الزّبيرقداشترى الغابةبسبعين وماءةألف، فباعهاعبداللّه بألف ألف وستّماءةالف
ثمّ قام فقال : من كان له على الزّبيرشيءفليوافنابالغابة، فأتاه عبداللّه بن
جعفروكان له على الزّبيرأربعماءةالف، فقال لعبداللّه : إن شءتم تركتهالكم قال
عبداللّه : لا، قال : فإن شءتم جعلتموهافيماتؤخّرون إن أخّرتم، قال عبداللّه : لا،
قال : فاقطعوالى قطعة، قال عبداللّه : لك من ههناإلى ههنافباع عبداللّه منهافقضى
دينه وأوفاهوبقى منهاأربعةأسهم ونصف، فقدم على معاويةوعنده عمروبن عثمان والمنذربن
الزّبيروابن زمعةفقال له مغاوية : كم قوّمت الغابة ؟ قال : كلّ سهم ماءةالف، قال :
كم بقى منها ؟ قال : أربعةأسهم ونصف، فقال المنذربن الزّبير : قد أخدت
سهمابماءةالف، وقلل عمروبن عثمان : قدأخدت سهمابماءةألف وقال ابن زمعة : قدأخدت
سهمابماءةألف، فقال معاوية : كم بقى ؟ قال : سهم ونصف سهم، فقال : قدأخدته بخمسين
وماءةألف، قال : وباع عبداللّه بن جعفرنصيبه من معاويةبستّ ماءةألف، فلمّافرغ ابن
الزّبيرمن قضاءدينه، قال : بنوالزّبير : اقسم بينناميراثنا، قال : واللّه لاأقسم
بينكم حتّى أنادى بالموسم أربع سنين الا من كان له على الزّبيردين فليأينافلنقضيه،
فجعل كلّ سنة ينادى فى الموسم، فلمّامضى أربع سنين قسم بينهم ورفع الثّلث وكان
للزّبيرأربع نسوةفأصاب كلّ امرأةالف الف وماءتاالف، فجميع ماله خمسون ألف ألف
وماءتاألف(رواه البخارى)٠

Jumat, 19 Februari 2010

Masuk Surga Tanpa Hisab

Orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), masuk surga setelah dihisab, dan masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka. Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.

Sempurnakan Tauhid !

Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat. Allah berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb)” [QS. An Nahl: 120]. Dalam ayat ini, Allah memuji nabi Ibrahim dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Mencontoh Para Nabi Dalam Bertauhid

Di dalam Al Qur’an Allah memberikan uswah (teladan) kepada kita pada dua sosok manusia yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ‘alaihimashsholaatu was salaam. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja’” [QS. Al Mumtahanah: 4].

Perhatikanlah, Ibrahim ‘alaihis salam menjadi teladan dengan memurnikan tauhid dengan cara berlepas diri dari kesyirikan. Dalam ayat selanjutnya, Allah berfirman, “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian” [QS. Al Mumtahanah: 6]. Tidak diragukan lagi, balasan yang paling besar dan keselamatan yang dimaksud adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Itulah keselamatan yang hakiki yang dinanti oleh setiap jiwa yang pasti akan merasakan mati.

Allah juga berfirman tentang Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [QS. Al Ahzab: 21]. Nabi Muhammad adalah orang yang paling paham tentang tauhid, maka orang yang hendak mempraktekkan tauhid dalam dirinya harus mencontoh ajaran beliau. Ya Allah, masukkanlah kami dalam golongan orang yang mengharap rahmat-Mu dan banyak menyebut-Mu.

Patuh Terhadap Perintah Allah

Nabi Ibrahim adalah seorang yang sangat patuh kepada Allah, teguh dalam ketaatannya dan senantiasa berada dalam ketundukannya, apapun keadaannya. Buktinya ketika beliau diuji dengan perintah untuk menyembelih putra kesayangannya, beliau pun tetap patuh melaksanakannya (Qoulul Mufid karya Syaikh Al Utsaimin). Begitu juga keturunannya, pemimpin para Nabi, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hamba Allah yang paling taat. Allah berfirman, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” [QS. Az Zumar: 9].

Keluar dari Kegelapan Syirik Menuju Cahaya Tauhid

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Hanif adalah menujukan ibadah hanya kepada Allah (tauhid) dan berpaling dari peribadatan kepada selain-Nya (syirik)” [Fathul Majid]. Inilah sifat orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, yakni betul-betul menjaga kemurnian tauhidnya dengan berpaling sejauh-jauhnya dari kesyirikan dengan segala macam pernak-perniknya. Mujahid berkata, “Nabi Ibrahim adalah seorang imam walaupun beliau beriman seorang diri di tengah kaumnya yang kafir” [Tafsir Ibnu Katsir, QS. An Nahl: 120]. Maksudnya beliau adalah sosok yang selamat dari kesyirikan baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan” [Al Jadid karya syaikh Al Qor’awi]. Maka untuk memurnikan tauhid, kita harus berpaling dari syirik dan pelakunya.

Tawakkal Kepada Allah, Itu Kuncinya

Mari kita simak sabda Nabi yang paling kita cintai dan sangat mencintai umatnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Beliau bersabda, “Beberapa umat ditampakkan kepadaku, lalu kulihat seorang nabi bersama beberapa orang, ada seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai siapapun. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku satu golongan dalam jumlah yang amat banyak, sehingga aku mengira mereka adalah umatku. Maka ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Aku melihat lagi, ternyata di sana ada jumlah yang lebih banyak lagi. Ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Itulah umatmu, tujuh puluh ribu orang di antara mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.’ Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Maka orang-orang berkumpul bersama orang-orang yang sudah berkumpul. Sebagian mereka mengatakan, ‘Barangkali mereka adalah para sahabat Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain mengatakan, ‘Boleh jadi mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan sesuatu pun beserta Allah.’ Mereka pun mengatakan banyak hal. Lalu Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan mereka memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta untuk (berobat dengan cara) disundut dengan api, dan tidak melakukan tathayyur, serta mereka bertawakal kepada Allah.’ Lalu ‘Ukkasyah bin Mihshon berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudian ada orang lain berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau sudah didahului ‘Ukasyah’” [HR. Al Bukhari dan Muslim].

Di antara pelajaran paling berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwa tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara disundut dengan besi panas (kayy), dan tidak menganggap akan mengalami kesialan setelah mendengar atau melihat sesuatu (tathoyyur) merupakan wujud dan realisasi dari tawakkal kepada Allah. Karena itulah Rasulullah menganjurkan kepada umatnya agar tidak melakukan ketiga hal tersebut, karena pengaruh ruqyah dan kayy yang sangat kuat sehingga dikhawatirkan seorang hamba menggantungkan harapan kesembuhannya kepada cara pengobatan tersebut dan bukannya bersandar kepada Allah. Khusus untuk tathoyyur maka hukumnya tidak diperbolehkan. Kesimpulannya, keadaan orang yang akan masuk surga sangat tergantung dari kadar tawakkal setiap orang, semakin tinggi tingkat tawakkalnya semakin tinggi pula tingkat kesempurnaan tauhidnya. Allahlah tempat kita bersandar dan menyerahkan urusan. Wallahu a’lam.

muslim.or.id

Shalat Malam

Hukum, Waktu dan Jumlah Rakaat shalat Malam

Hukum shalat malam adalah sunah muakkad. Waktunya adalah setelah shalat ‘isya sampai dengan sebelum waktu shalat shubuh. Akan tetapi, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir dan boleh dikerjakan sesudah tidur ataupun sebelumnya.

Sedangkan jumlah rakaatnya paling sedikit adalah 1 rakaat berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “shalat malam adalah 2 rakaat (salam) 2 rakaat (salam), apabila salah seorang di antara kamu khawatir akan datangnya waktu shubuh maka hendaklah dia shalat 1 rakaat sebagai witir baginya” [HR. Bukhari dan Muslim]. Dan paling banyak adalah 11 rakaat berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyAllahu ‘anha, “Tidaklah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam di bulan ramadhan atau pun bulan yang lainnya lebih dari 11 rakaat” [HR. Bukhari dan Muslim], walaupun mayoritas ulama menyatakan tidak ada batasan dalam jumlah rakaatnya.

Keutamaan shalat Malam

Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa, Allah SubhanAllahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar” [QS. Adz Dzariyat: 17-18].

Karena pentingnya shalat malam ini Allah berfirman kepada Nabi-Nya yang artinya, “Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk shalat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil” [QS. AlMuzammil: 1-4].

Berikut ini akan kami sampaikan beberapa keutamaan shalat malam dengan tujuan agar seseorang lebih bersemangat dan terdorong hatinya untuk mengerjakannya dan selalu mengerjakannya.

1. Sebab masuk surga.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan shalatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat” [HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al Albani].

2. Menaikkan derajat di surga.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh di dalam surga tedapat kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Allah sediakan bagi orang yang memberi makan, melembutkan perkataan, mengiringi puasa Romadhon (dengan puasa sunah), menebarkan salam dan mengerjakan shalat malam ketika manusia lain terlelap tidur” [HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani].

3. Penghapus dosa dan kesalahan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian melakukan shalat malam, karena shalat malam itu adalah kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian, dan ibadah yang mendekatkan diri pada Tuhan kalian serta penutup kesalahan dan sebagai penghapus dosa” [HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani].

4. shalat yang paling utama setelah shalat fardhu.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam” [HR. Muslim].

5. Kemulian orang yang beriman dengan shalat malam.

Ketika Jibril datang pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman adalah dengan shalat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain” [HR. Al Hakim, dihasankan oleh Al Albani].

Akan tetapi disayangkan kebanyakan kaum muslimin meninggalkan shalat malam yang berarti telah menyia-nyiakan keutamaan yang telah Allah sediakan dikarenakan kemalasan yang ada pada mereka atau pun tergoda dengan gemerlapnya dunia. Dalam riwayat Imam Bukhori disebutkan bahwa ketika Rasulullah ditanya tentang seorang yang tidur sepanjang malam sampai waktu subuh, maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia adalah seorang yang kedua telinganya dikencingi oleh setan.” Hal ini adalah penghinaan setan baginya, lalu bagaimana seorang yang bangun setelah waktu subuh??? Wallahu Musta’an.

***
muslim.or.id

Shalat Malam

Hukum, Waktu dan Jumlah Rakaat shalat Malam

Hukum shalat malam adalah sunah muakkad. Waktunya adalah setelah shalat ‘isya sampai dengan sebelum waktu shalat shubuh. Akan tetapi, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir dan boleh dikerjakan sesudah tidur ataupun sebelumnya.

Sedangkan jumlah rakaatnya paling sedikit adalah 1 rakaat berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “shalat malam adalah 2 rakaat (salam) 2 rakaat (salam), apabila salah seorang di antara kamu khawatir akan datangnya waktu shubuh maka hendaklah dia shalat 1 rakaat sebagai witir baginya” [HR. Bukhari dan Muslim]. Dan paling banyak adalah 11 rakaat berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyAllahu ‘anha, “Tidaklah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam di bulan ramadhan atau pun bulan yang lainnya lebih dari 11 rakaat” [HR. Bukhari dan Muslim], walaupun mayoritas ulama menyatakan tidak ada batasan dalam jumlah rakaatnya.

Keutamaan shalat Malam

Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa, Allah SubhanAllahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar” [QS. Adz Dzariyat: 17-18].

Karena pentingnya shalat malam ini Allah berfirman kepada Nabi-Nya yang artinya, “Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk shalat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil” [QS. AlMuzammil: 1-4].

Berikut ini akan kami sampaikan beberapa keutamaan shalat malam dengan tujuan agar seseorang lebih bersemangat dan terdorong hatinya untuk mengerjakannya dan selalu mengerjakannya.

1. Sebab masuk surga.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan shalatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat” [HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al Albani].

2. Menaikkan derajat di surga.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh di dalam surga tedapat kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Allah sediakan bagi orang yang memberi makan, melembutkan perkataan, mengiringi puasa Romadhon (dengan puasa sunah), menebarkan salam dan mengerjakan shalat malam ketika manusia lain terlelap tidur” [HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani].

3. Penghapus dosa dan kesalahan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian melakukan shalat malam, karena shalat malam itu adalah kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian, dan ibadah yang mendekatkan diri pada Tuhan kalian serta penutup kesalahan dan sebagai penghapus dosa” [HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani].

4. shalat yang paling utama setelah shalat fardhu.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam” [HR. Muslim].

5. Kemulian orang yang beriman dengan shalat malam.

Ketika Jibril datang pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman adalah dengan shalat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain” [HR. Al Hakim, dihasankan oleh Al Albani].

Akan tetapi disayangkan kebanyakan kaum muslimin meninggalkan shalat malam yang berarti telah menyia-nyiakan keutamaan yang telah Allah sediakan dikarenakan kemalasan yang ada pada mereka atau pun tergoda dengan gemerlapnya dunia. Dalam riwayat Imam Bukhori disebutkan bahwa ketika Rasulullah ditanya tentang seorang yang tidur sepanjang malam sampai waktu subuh, maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia adalah seorang yang kedua telinganya dikencingi oleh setan.” Hal ini adalah penghinaan setan baginya, lalu bagaimana seorang yang bangun setelah waktu subuh??? Wallahu Musta’an.

***
muslim.or.id

Kamis, 18 Februari 2010

Keutamaan Shalat Isyroq

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »

“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di mesjid[HR ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (no. 7741), dinyatakan baik isnadnya oleh al-Mundziri] – untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna“[HR at-Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (no. 3403)].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan duduk menetap di tempat shalat, setelah shalat shubuh berjamaah, untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian melakukan shalat dua rakaat[Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “at-Targhib wat tarhib” (1/111-shahih at-targhib)].

Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
Shalat dua rakaat ini diistilahkan oleh para ulama[Bahkan penamaan ini dari sahabat Ibnu Abbas t, lihat kitab “Bughyatul mutathawwi’” (hal. 79)] dengan shalat isyraq (terbitnya matahari), yang waktunya di awal waktu shalat dhuha[Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/157) dan “Bughyatul mutathawwi’” (hal. 79)].
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “… sampai matahari terbit“, artinya: sampai matahari terbit dan agak naik setinggi satu tombak[Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158)], yaitu sekitar 12-15 menit setelah matahari terbit[Lihat keterangan syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam “asy-Syarhul mumti’” (2/61)], karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat ketika matahari terbit, terbenam dan ketika lurus di tengah-tengah langit[Dalam HR Muslim (no. 831)].

Keutamaan dalam hadits ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, dari Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai melakukan shalat shubuh, beliau duduk (berzikir) di tempat beliau shalat sampai matahari terbit dan meninggi”[HR Muslim (no.670) dan at-Tirmidzi (no.585)].

Keutamaan dalam hadits ini adalah bagi orang yang berzikir kepada Allah di mesjid tempat dia shalat sampai matahari terbit, dan tidak berbicara atau melakukan hal-hal yang tidak termasuk zikir, kecuali kalau wudhunya batal, maka dia boleh keluar mesjid untuk berwudhu dan segera kembali ke mesjid[Demikian keterangan yang kami pernah dengar dari salah seorang syaikh di kota Madinah].
Maksud “berzikir kepada Allah” dalam hadits ini adalah umum, termasuk membaca al-Qur’an, membaca zikir di waktu pagi, maupun zikir-zikir lain yang disyariatkan.

Pengulangan kata “sempurna” dalam hadits ini adalah sebagai penguat dan penegas, dan bukan berarti mendapat tiga kali pahala haji dan umrah[Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (3/158)].
Makna “mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah” adalah hanya dalam pahala dan balasan, dan bukan berarti orang yang telah melakukannya tidak wajib lagi untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah jika dia mampu.

muslim.or.id